Twitter

Contact Online

Eka Usmanthea Rinda  

Artikel Terbaru

Korban Tewas Palestina dan Israel Terus Bertambah

Korban Tewas Palestina dan Israel Terus Bertambah

July 22nd, 2014

INSPIRATV - Seorang warga Israel menembak mati seo[...]

Prabowo: Kami Menolak Pilpres 2014

Prabowo: Kami Menolak Pilpres 2014

July 22nd, 2014

INSPIRATV - Calon presiden nomor urut satu, Prabow[...]

Cara Bedakan Keputihan Normal dan Berbahaya

Cara Bedakan Keputihan Normal dan Berbahaya

July 22nd, 2014

INSPIRATV- Keputihan merupakan hal yang wajar dan [...]

Berita Photo Terbaru

Charity Concert “Gaza Calls You”
Tempat Parkir Mobil Tidak Laku di Dunia

Tempat Parkir Mobil Tidak Laku di Dunia

July 11th, 2014

Saat terjadi penurunan penjualan atau berkurangnya[...]

Wednesday, 4 December 2013

Awal 2014, Harga Sembako Naik 15 %

sembako1

INSPIRATV - Kalangan industri makanan dan minuman berencana menaikkan harga produksinya. Upaya ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. “Kalau di industri makanan dan minuman, ketergantungan kami terhadap bahan baku impor sangat besar. Kami harus sadar itu,” kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi), Adhi S Lukman, di sela acara “Simposium Pangan Nasional” di Indofood Tower, Jakarta, Selasa (3/12).

Dengan depresiasi rupiah, dia menjelaskan, otomatis akan berpengaruh terhadap harga produksi perusahaan. Kondisi itu yang membuat produsen makanan dan minuman khawatir. Adhi menjelaskan, pengusaha makanan dan minuman kesulitan untuk menentukan biaya produksi mereka, mengingat pergerakan rupiah yang tidak dapat diprediksi.

Misalnya, mereka telah menghitung biaya produksi dengan rupiah yang berada di level Rp11.000-11.500 per dolar AS. Tapi, rupiah pernah melemah di level Rp12.000 per dolar AS. “Ternyata, sudah menembus Rp12.000 dan ini bisa mudah melonjak hingga Rp13.000. Itu yang menjadi sulit bagi industri. Kami mau kalkulasi harga produksi itu basisnya apa? Ini yang sedang dipelajari apakah dengan Rp12.000 atau Rp14.000,” ujarnya.

Keputusan menaikkan harga produk rupanya menjadi hal yang tidak bisa ditunda lagi. Mereka merasa tidak bisa terus-menerus mengorbankan marjin produksi demi tidak ada kenaikan harga produk. “Untuk itu, Januari (2014), kami akan menaikkan harga, karena ada faktor kenaikan harga BBM, kurs, dan penyesuaian upah minimum regional (UMR). Kenaikannya rata-rata 10-15 persen” kata dia.

Penyesuaian ini, Adhi melanjutkan, adalah harga yang sudah tidak bisa ditawar lagi. Depresiasi rupiah benar-benar memukul industri makanan dan minuman. Sebab, langsung berimbas kepada bahan produksi, seperti gula, terigu, dan kemasan. Ketergantungan industri tersebut terhadap bahan baku impor sangat tinggi. “Kalau berbasis terigu, ketergantungannya luar biasa. Gula juga seperti itu. Kalau kemasan itu fifty-fifty. Itu baru bahan baku impor. Belum termasuk biaya UMR dan lainnya,” kata dia.

Adhi tidak memungkiri penyesuaian harga tersebut akan menimbulkan “gejolak” bagi konsumen. Tetapi, pihaknya optimistis konsumen bisa menerimanya setelah 1-2 bulan penyesuaian harga, demikian Adhi S Lukman.

(solusinews)