Twitter

Contact Online

Eka Usmanthea Rinda  

Artikel Terbaru

Leher Panjang, Tradisi Unik Kecantikan Wanita Suku Kayan

Leher Panjang, Tradisi Unik Kecantikan Wanita Suku Kayan

April 22nd, 2014

INSPIRATV - Apakah makna kecantikan untuk Anda saa[...]

Moyes Dipecat

Moyes Dipecat

April 22nd, 2014

INSPIRATV - David Moyes hari ini dipecat sebagai m[...]

Ryan Giggs Gantikan David Moyes

Ryan Giggs Gantikan David Moyes

April 22nd, 2014

INSPIRATV - Legenda Wales, Ryan Giggs akan menggan[...]

Berita Photo Terbaru

Bioskop Terbengkalai di Tengah Gurun Sinai

Bioskop Terbengkalai di Tengah Gurun Sinai

April 11th, 2014

Fotografer pemenang penghargaan asal Estonia, Ka[...]

Foto Unik Anak-anak di Penjuru Dunia dan Mainannya

Foto Unik Anak-anak di Penjuru Dunia dan Mainannya

April 11th, 2014

Fotografer Gabriele Galimberti telah melakukan p[...]

Wednesday, 4 December 2013

Awal 2014, Harga Sembako Naik 15 %

sembako1

INSPIRATV - Kalangan industri makanan dan minuman berencana menaikkan harga produksinya. Upaya ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. ”Kalau di industri makanan dan minuman, ketergantungan kami terhadap bahan baku impor sangat besar. Kami harus sadar itu,” kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi), Adhi S Lukman, di sela acara “Simposium Pangan Nasional” di Indofood Tower, Jakarta, Selasa (3/12).

Dengan depresiasi rupiah, dia menjelaskan, otomatis akan berpengaruh terhadap harga produksi perusahaan. Kondisi itu yang membuat produsen makanan dan minuman khawatir. Adhi menjelaskan, pengusaha makanan dan minuman kesulitan untuk menentukan biaya produksi mereka, mengingat pergerakan rupiah yang tidak dapat diprediksi.

Misalnya, mereka telah menghitung biaya produksi dengan rupiah yang berada di level Rp11.000-11.500 per dolar AS. Tapi, rupiah pernah melemah di level Rp12.000 per dolar AS. ”Ternyata, sudah menembus Rp12.000 dan ini bisa mudah melonjak hingga Rp13.000. Itu yang menjadi sulit bagi industri. Kami mau kalkulasi harga produksi itu basisnya apa? Ini yang sedang dipelajari apakah dengan Rp12.000 atau Rp14.000,” ujarnya.

Keputusan menaikkan harga produk rupanya menjadi hal yang tidak bisa ditunda lagi. Mereka merasa tidak bisa terus-menerus mengorbankan marjin produksi demi tidak ada kenaikan harga produk. ”Untuk itu, Januari (2014), kami akan menaikkan harga, karena ada faktor kenaikan harga BBM, kurs, dan penyesuaian upah minimum regional (UMR). Kenaikannya rata-rata 10-15 persen” kata dia.

Penyesuaian ini, Adhi melanjutkan, adalah harga yang sudah tidak bisa ditawar lagi. Depresiasi rupiah benar-benar memukul industri makanan dan minuman. Sebab, langsung berimbas kepada bahan produksi, seperti gula, terigu, dan kemasan. Ketergantungan industri tersebut terhadap bahan baku impor sangat tinggi. ”Kalau berbasis terigu, ketergantungannya luar biasa. Gula juga seperti itu. Kalau kemasan itu fifty-fifty. Itu baru bahan baku impor. Belum termasuk biaya UMR dan lainnya,” kata dia.

Adhi tidak memungkiri penyesuaian harga tersebut akan menimbulkan “gejolak” bagi konsumen. Tetapi, pihaknya optimistis konsumen bisa menerimanya setelah 1-2 bulan penyesuaian harga, demikian Adhi S Lukman.

(solusinews)