Twitter

Contact Online

Eka Usmanthea Rinda  

Artikel Terbaru

10 Hal yang Harus Sudah Diketahui Anak di Usia 15 Tahun

10 Hal yang Harus Sudah Diketahui Anak di Usia 15 Tahun

September 2nd, 2014

INSPIRATV - Mendidik dan mengasuh anak memang buka[...]

6 Daftar Makanan Kaya Vitamin A Untuk Kesehatan Anda

6 Daftar Makanan Kaya Vitamin A Untuk Kesehatan Anda

September 2nd, 2014

INSPIRATV - Vitamin dan mineral adalah beberapa ko[...]

Kebahagiaan Sejati Datang Dari Hati

Kebahagiaan Sejati Datang Dari Hati

September 2nd, 2014

INSPIRATV - Kebahagiaan adalah sebuah perasaan yan[...]

Berita Photo Terbaru

Seminar Sehari “The Miracle Of Al-Qur’an”

Seminar Sehari "The Miracle Of Al-Qur'an"

August 28th, 2014

INSPIRATV - Seminar Sehari "The Miracle Of Al-Qur'[...]

Seminar Nasional “Demokrasi Dan Media Massa”

Seminar Nasional "Demokrasi Dan Media Massa"

August 20th, 2014

INSPIRATV - Acara seminar nasional yang diselengga[...]

Wednesday, 4 December 2013

Awal 2014, Harga Sembako Naik 15 %

sembako1

INSPIRATV - Kalangan industri makanan dan minuman berencana menaikkan harga produksinya. Upaya ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. “Kalau di industri makanan dan minuman, ketergantungan kami terhadap bahan baku impor sangat besar. Kami harus sadar itu,” kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi), Adhi S Lukman, di sela acara “Simposium Pangan Nasional” di Indofood Tower, Jakarta, Selasa (3/12).

Dengan depresiasi rupiah, dia menjelaskan, otomatis akan berpengaruh terhadap harga produksi perusahaan. Kondisi itu yang membuat produsen makanan dan minuman khawatir. Adhi menjelaskan, pengusaha makanan dan minuman kesulitan untuk menentukan biaya produksi mereka, mengingat pergerakan rupiah yang tidak dapat diprediksi.

Misalnya, mereka telah menghitung biaya produksi dengan rupiah yang berada di level Rp11.000-11.500 per dolar AS. Tapi, rupiah pernah melemah di level Rp12.000 per dolar AS. “Ternyata, sudah menembus Rp12.000 dan ini bisa mudah melonjak hingga Rp13.000. Itu yang menjadi sulit bagi industri. Kami mau kalkulasi harga produksi itu basisnya apa? Ini yang sedang dipelajari apakah dengan Rp12.000 atau Rp14.000,” ujarnya.

Keputusan menaikkan harga produk rupanya menjadi hal yang tidak bisa ditunda lagi. Mereka merasa tidak bisa terus-menerus mengorbankan marjin produksi demi tidak ada kenaikan harga produk. “Untuk itu, Januari (2014), kami akan menaikkan harga, karena ada faktor kenaikan harga BBM, kurs, dan penyesuaian upah minimum regional (UMR). Kenaikannya rata-rata 10-15 persen” kata dia.

Penyesuaian ini, Adhi melanjutkan, adalah harga yang sudah tidak bisa ditawar lagi. Depresiasi rupiah benar-benar memukul industri makanan dan minuman. Sebab, langsung berimbas kepada bahan produksi, seperti gula, terigu, dan kemasan. Ketergantungan industri tersebut terhadap bahan baku impor sangat tinggi. “Kalau berbasis terigu, ketergantungannya luar biasa. Gula juga seperti itu. Kalau kemasan itu fifty-fifty. Itu baru bahan baku impor. Belum termasuk biaya UMR dan lainnya,” kata dia.

Adhi tidak memungkiri penyesuaian harga tersebut akan menimbulkan “gejolak” bagi konsumen. Tetapi, pihaknya optimistis konsumen bisa menerimanya setelah 1-2 bulan penyesuaian harga, demikian Adhi S Lukman.

(solusinews)