INSPIRA PROGRAM LIVE TV
Inspira TV - Beriklan TV Digital

Kisah Dokter Penemu Virus Corona yang Dipecat Rumah Sakit Arab Saudi

Redaksi Inspira TV

07 February, 2020 15:51 WIB | INSPIRA TEKNO

Inspira TV - Kisah Dokter Penemu Virus Corona yang Dipecat Rumah Sakit Arab Saudi

Foto : Google.com

INSPIRA.TV,- Virus Corona yang menyebabkan ratusan orang meninggal sejak diumumkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 9 September 2020, ternyata virus ini merupakan varian ketujuh dari keluarga virus corona yang bisa menginfeksi manusia. Virus corona dikenal dalam empat varian, yakni alfa, beta, gama, dan delta. Namun, hanya varian alfa dan beta yang bisa menginfeksi manusia.


Namun tahukah Anda, pada tahun 2013 silam ada seorang ahli mikrobiologi bernama Ali Mohamed Zaki, yang menemukan pertama kali virus corona, yang punya kaitan dengan hewan mamalia itu, hCoV-EMC. Jenis virus corona ini yang mampu menyerang manusia dan muncul di kawasan Timur Tengah pada 2012. Saat itu, Zaki sedang bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Dr. Soliman Fakeeh, Arab Saudi, pada September 2012.


Melansir The Guardian, Ali sebelumnya diminta oleh seorang dokter untuk mengidentifikasi virus di dalam tubuh seorang pasien berusia 60 tahun, yang saat itu tengah mendapatkan perawatan akibat mengalami pneumonia parah, di RS Dr. Soliman Fakeeh. Kejadian ini terjadi pada bulan Juni tahun 2012 dulu. Sebelum terjadi di Kota Wuhan, virus corona pernah jadi wabah di Arab Saudi.


Namun sayangnya, dokter yang menemukan pertama kali virus tersebut malah dipecat dari tempat ia bekerja. Wabah ini membuat orang-orang kembali mengingat kasus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus (SARS-CoV) tahun 2003 di Asia dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) tahun 2012 silam di Arab Saudi.


Isolation of A Novel Coronavirus From a Man With Pneumonia in Saudi Arabia, itulah judul penelitian yang diterbitkan The New England Journal of Medicine, edisi Oktober 2012. Karya tersebut merupakan hasil dari dokter Ali Mohamed Zaki bersama 3 koleganya yang lain yaitu Sander van Boheemen, Theo M Bestebroer, Albert DME Osterhaus, dan Ron AM Fouchier.


Laporan ilmiah ini dibuat dr Zaki setelah menjumpai kasus pneumonia yang aneh. Pada Juni 2012, dia adalah virologis di Dr Soliman Fakeeh Hospital di Jeddah, Arab Saudi. Ada pasien berumur 60 tahun dengan pneumonia yang parah. Lantas Zaki pun melakukan uji pararel antara dia dengan tim dr Ron Fouchier di Erasmus Medical Centre di Rotterdam, Belanda. Keduanya mendapatkan hasil positif kalau ini virus corona, tapi virus ini tidak dikenal alias jenis baru lagi.


Zaki lalu menyampaikan temuannya di proMed, sistem pelaporan internet untuk para peneliti dan lembaga kesehatan, terkait kasus wabah. Akibat laporannya tersebut, kabar buruk sampai ditelinganya sebulan kemudian. Zaki  dipecat atas tekanan dari Kementerian Kesehatan Arab Saudi.


"Mereka tidak suka ini muncul di proMed. Mereka memaksa rumah sakit untuk menghentikan kontrak saya. Saya diminta meninggalkan pekerjaan saya karena ini, tapi ini tugas saya. Ini virus yang sangat serius," kata Zaki diberitakan Guardian edisi 15 Maret 2013.


Lantas bagaimana nasib dengan pasien Zaki? malangnya pasien yang memang sudah sepuh itu akhirnya meninggal setelah 11 hari dirawat di rumah sakit. Di saat yang bersamaan, muncul kasus serupa di Qatar dari orang yang baru pulang dari Arab Saudi.


Kasus pasien dokter Zaki dan kasus di Qatar, WHO lalu memberi perhatian serius karena ini virus yang mirip SARS yang mewabah tahun 2003, tapi tidak persis sama. Erasmus Medical Centre akhirnya memberi nama baru untuk virus corona ini. Nama resminya adalah Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV). Orang-orang secara umum menyebutnya MERS. Hingga 30 Oktober 2013 ada 124 kasus dan 52 kematian di Arab Saudi saja.


Siapa sangka, 8 tahun kemudian virus corona sudah berkembang lagi menjadi wabah baru di Wuhan dengan nama Wuhan Coronavirus atau 2019-nCoV.


Lalu dimana keberadaan dr Zaki saat ini? Dia kini bekerja di Universitas Ain Shams di Kairo. Kepada Guardian, dia mengatakan teguh pada keputusannya saat itu mempublikasikan hasil temuannya kepada dunia meskipun pemerintah Arab Saudi keberatan.


"Saya tidak tahu (virus) apa yang saya hadapi," singkatnya. (GGP)

You can share this post !