INSPIRA PROGRAM LIVE TV
Inspira TV - Beriklan TV Digital

Babak Tanya Jawab Bekas Menpora dan Anak Buahnya Soal Permintaan Uang Rp5 Miliar

Raka Prawira

04 March, 2020 20:50 WIB | BERITA INSPIRA

Inspira TV - Babak Tanya Jawab Bekas Menpora dan Anak Buahnya Soal Permintaan Uang Rp5 Miliar

Foto : Istimewa

JAKARTA,- Bekas Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi dan Sekretaris Menpora yang saat ini masih menjabat Gatot S Dewa Broto memberikan pemandangan aksi saling berdebat saat sidang dengan agenda pemeriksaan saksi di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Terjadi aksi tanya jawab diantara keduanya.

 

Imam Nahrawi menegaskan bahwa eks Sekretaris Menpora (Sesmenpora) Alfitra Salamm dicopot karena hasil dari temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengenai laporan keuangan Kemenpora.

 

"Alfitra Salamm ketika sebagai Sesmenpora tidak bisa mengkoordinasikan soal disclaimer, soal BMN (Barang Milik Negara), soal surat dari BPK kepada saya yang belum diberikan oleh Alfitra dan BPK dengan mengatakan menteri teledor karena belum membalas surat BPK karena surat berada ditangan Sesmenpora, Pak Alfitra Salamm, bapak masih ingat?" tanya Imam Nahrawi di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu (4/3/2020).

 

"Iya ingat," kata Sekretaris Menpora Gatot S Dewa Broto yang hadir dalam persidangan sebagai saksi.

 

Gatot menjadi saksi untuk Imam Nahrawi, yang kini duduk di kursi pesakitan karena tersandung kasus penerimaan suap bersama dengan asisten pribadinya Miftahul Ulum.  Mereka didakwa menerima suap dengan total Rp11,5 miliar dari Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Ending Fuad Hamidy dan Bendahara KONI Johnny E Awuy.

 

Hal ini terkait proprosal bantuan dana hibah kepada Kemenpora dalam pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program Asian Games dan Asian Para Games 2018, serta proposal dukungan KONI Pusat dalam pengawasan dan pendampingan seleksi calon atlet dan pelatih atlet berpresetasi tahun 2018.

 

Sebelumnya dalam sidang Gatot mengatakan bahwa Alfitra Salamm diberhentikan sebagai Sesmenpora pada 2016 karena menolak memberikan uang Rp5 miliar ke Imam Nahrawi. Imam juga mengirim surat ke Presiden untuk pemberhentian Alfitra, namun sebelum ada surat dari Presiden, Alfitra sudah lebih dulu mengundurkan diri lebih dulu.

 

"Soal penataan BMN, ada temuan di era Pak Roy Suryo, pada saat itu belum juga didata dengan baik, soal penataan aset yang belum ditangani dengan baik, kemudian soal restrukturisasi kementerian yang belum juga dipisah antara KPA (Kuasa Pengguna Anggaran) masif dan KPA tunggal dan itu alasan kenapa Pak Alfitra Salamm kita minta untuk mundur. Bukan isu yang tadi disampaikan oleh bapak. Jadi sangat kualitatif sekali, Bapak ingat seperti itu dan bapak bersaksi ya?" tanya Imam dengan tegas kepada Gatot.

 

"Ya," jawab Gatot.

 

"Jadi tidak ada alasan Pak Alfitra itu mundur karena dimintai Rp5 miliar, betul?" tanya Imam lagi.

 

 "Betul," jawab Gatot.

 

Dalam dakwaan kedua Imam didakwa menerima gratifikasi berupa uang seluruhnya berjumlah Rp8,648 miliar dengan rincian Rp300 juta dari Ending Fuad Hamidy, lalu uang Rp4,948 miliar sebagai tambahan operasional Menpora RI, Rp2 miliar sebagai pembayaran jasa desain Konsultan Arsitek Kantor Budipradono Architecs dari Lina Nurhasanah selaku Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) Program Indonesia Emas (PRIMA) Kemenpora RI tahun anggaran 2015-2016.

 

Selanjutnya penerimaan uang Rp1 milliar dari Edward Taufan Panjaitan selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) program Satlak Prima 2016-2017 dan uang sejumlah Rp400 juta dari Supriyono selaku BPP Peningkatan Presitasi Olahraga Nasional (PPON) tahun 2017-2018 dari KONI Pusat.(GGP)

 

You can share this post !

ARTIKEL PILIHAN