INSPIRA PROGRAM LIVE TV
Inspira TV - Beriklan TV Digital

Prank Ferdian Paleka Jadi Contoh Miskinnya Literasi Content Creator di Media Sosial

Fury Elvira

12 May, 2020 11:22 WIB | INSPIRATAINMENT

Inspira TV - Prank Ferdian Paleka Jadi Contoh Miskinnya Literasi Content Creator di Media Sosial

Foto : Tangkapan Layar Program Ngobrol dari rumah Inspira TV

BANDUNG INSPIRA.TV,- Beberapa kelompok anak muda hari ini masih belum bisa bijak membuat konten acara yang berbau kontroversi. Salah satu kasus terbaru yakni konten prank yang dilakukan oleh salah seorang pemuda bernama Ferdian Paleka.

 

Dirinya bersama dua orang temannya membuat prank dengan cara memberkan makanan berisi batu bata dan sampah kepada waria. Konten tersebut mendapatkan hujatan dari berbagai kalangan karena tindakan sang pemuda yang tidak terpuji. Prank dari Ferdian menjadi salah satu contoh miskinnya literasi content creator untuk media sosial.

 

Menurut Direktur Proteksi Ekonomi Digital BSSN, Anton Setiawan, berpendapat jika konten bisa menjadi sebuah yang esensial ketika berbicara media sosial. Kata dia dalam membuat konten ada beberapa komponen – kompenan yang patut diperhatikan agar konten tersebut bisa dikatakan baik atau tidak untuk ditayangkan melalui platform medsos.

 

“Harus diperhatikan komponen-komponen yang pertama sudah jelas content creator, yang kedua content distributor seperti platform apapun itu untuk mendistribusikan konten yang sudah dibuat, yang ketiga tentunya konsumen konten tersebut. Nah yang keempat ini yang menjaga norma-norma dalam hal ini pemerintah, unsur masyarakat yang mempunyai asosiasi pengawasan,” jelas Anton dalam program Ngobrol dari Rumah yang disiarkan langsung Inspira Tv, Selasa (12/5/2020).

 

Anton melanjutkan, saat ini banyak anak muda berkonsentrasi terhadap pembuatan konten di platform Youtube sebatas demi mendapatkan pundi-pundi uang dan pengikut (followers), dengan menciptakan sesuatu yang fenomenal.

 

Hanya saja Anton menyayangkan sesuatu yang dibuat untun menjadi fenomenal itu berubah menjadi tidak baik, akibat tidak bijaknya dalam membuat sebuah konten dan kurangnya pengawasan.

 

“Bagaimana caranya menghasilkan uang dan menambah follower banyak dan kemudian menciptakan sesuatu yang fenomenal. Tapi dalam tanda kutip jadi fenomenal yang kurang baik hanya memunculkan sensasi jadi orang klik dan nonton. Kaitan seperti itu saya dario pemerintah kita berdiskusi dengan yang mempunyai platform. Karena yang punya rules itu ya platform,” terangnya.

 

Sementara itu miskinnya literasi dalam pembuatan konten hingga berdampak negatif di mata masyarakat dikatakan Founder of Sobat Cyber Indonesia, Al Akbar Rahmadillah, menuturkan, kejadian nyata dilakukan oleh Ferdian Paleka kemarin, konten yang dibuat oleh Ferdian dinilai kurang memberikan tanggung jawab kepada sosial terkait konten yang dibuat.

 

“Kurangnya tanggung jawab kepada sosial, jadi ketika buat konten apa sih yang mau dipertanggungjawabkan kepada sosial apakah itu memberikan edukasi atau hanya menghibur orang atau meledek orang,” kata Akbar dalam program yang sama.

 

Melihat banyaknya konten prank yang bertebaran di Youtube Akbar berpendapat ada kesinambungan natara kinerja keras pemerintah dengan pihak swasta sebagai penyedia platform untuk memberikan edukasi dan literasi kepada masyarakat.

 

“Berkaca dari kasus kemarin selain pemerintah platformnya juga harus bertanggung jawab dengan cara memberikan edukasi literasi dan pelatihan kepada anak muda di Indonesia. Kalau prank (Ferdian Paleka) kemarin itu, tanggung jawab sosial kepada manusianya itu tidak ada,” kata dia.

 

Akbar pu mengingatkan kepada para anak muda untuk membuat konten yang lebih memberikan tanggung jawab kepada masyarakat dari hasil karya karya ciptaannya, agar ada efek positif di mata sosial. (MSN)

You can share this post !