INSPIRA PROGRAM LIVE TV
Inspira TV - Beriklan TV Digital

Sudah 22 Tahun Berlalu, 21 Mei Hari Runtuhnya Mahkota Soeharto dan Orde Baru

Masnurdiansyah

21 May, 2020 10:57 WIB | BERITA INSPIRA

Inspira TV - Sudah 22 Tahun Berlalu, 21 Mei Hari Runtuhnya Mahkota Soeharto dan Orde Baru

Foto : Doc. Nasional

22 tahun silam, adalah detik – detik kekuatan rakyat membuktikan mampu meruntuhkan mahkota Presiden Soeharto yang duduk di atas kursi singgasananya. Presiden ke 2 Indonesia itu, menyampaikan pidato pengunduran dirinya sebagai presiden pada 21 Mei 1998. Pidato yang menandai berakhirnya era orde baru setelah berkuasa selama 32 tahun.

 

INSPIRA.TV,- Hari ini, Presiden ke-2 Republik Indonesi Soharto mengundurkan diri dari jabatannya setelah sebelumnya terpilih kembali untuk ketujuh kalinya. Mundurnya Soeharto merupakan puncak dari kerusuhan dan aksi protes di berbagai daerah dalam beberapa bulan terakhir.

 

Berikut isi pidato pengunduran diri Presiden Soeharto:

 

Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998.

 

Kabar mundurnya Soeharto pun disambut gembira kerumunan massa yang telah menduduki Gedung DPR dan MPR.

 

Pada surat kabar harian Kompas, 22 Mei 1998, menggambarkan, para mahasiswa yang mengerumuni pesawat televisi di Lobi Lokawirasabha DPR, berteriak dan bersuka cita begitu mendengar Presiden Soeharto mundur. Mereka berlarian ke tangga utama DPR sambil menyanyikan lagu ‘Sorak-Sorak Bergembira’. Seiring berkumandangnya lagu kebangsaan Indonesia Raya, mereka pun menaikkan bendera Merah Putih setengah tiang menjadi satu tiang penuh.

 

Ekonomi Tak Membaik

 

Desakan mundur terjadi akibat krisis ekonomi melanda Indonesia. Ekonomi yang tak kunjung membaik sejak tahun 1997, lalu kemudian terpilihnya Soeharto kembali sebagai Presiden RI pada Maret 1998, tentu saja memantik situasi panas di seluruh penjuru negeri.

 

Serangkaian unjuk rasa dan aksi protes terjadi di berbagai daerah, bahkan korban pun mulai berjatuhan. Situasi ini, sejumlah pihak mulai mendesak Soeharto untuk mundur dari jabatannya. Diantaranya berasal dari pimpinan DPR, baik ketua maupun wakil. Harapan itu disampaikan oleh Ketua DPR dan MPR Harmoko ketika memberikan keterangan pers yang hanya berlangsung selama lima menit.

 

Harmoko saat meminta Soeharto turun
Harmoko saat meminta Soeharto turun dari jabatannya


Saat membacakan satu halaman keterangan persnya itu, Harmoko didampingi seluruh Wakil Ketua DPR atau MPR yakni Ismail Hasan Metareum, Abdul Gafur, Fatimah Achmad, dan Syarwan Hamid.

 

"Dalam menanggapi situasi seperti tersebut di atas, Pimpinan Dewan baik Ketua maupun Wakil-Wakil Ketua mengharapkan demi persatuan dan kesatuan bangsa, agar Presiden (Soeharto) secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri," kata Harmoko, dikutip dari pemberitaan Harian Kompas, 19 Mei 1998.

 

"Pimpinan Dewan menyerukan kepada seluruh masyarakat agar tetap tenang, menahan diri, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mewujudkan keamanan ketertiban supaya segala sesuatunya dapat berjalan secara konstitusional," sambungnya.

 

Usai menyampaikan keterangan persnya, Harmoko dengan ekspresi wajah tanpa senyum, bergegas meninggalkan ruangan tanpa bersedia diwawancara lagi.

 

Reformasi

 

Gejolak pergerakan khususnya mahasiswa sdah terjadi Sejak 18 Mei 1998. Puluhan ribu mahasiswa dari perguruan tinggi di wilayah Jabodetabek berhasil "menduduki" Gedung DPR dan MPR. Mereka pun bahkan naik hingga ke kubah gedung, memenuhi taman-taman, lorong-lorong maupun ruangan lobi.

 

Demo kala itu, merupakan demonstrasi terbesar yang pernah dilakukan mahasiswa selama 30 tahun terakhir. Selain mahasiswa, sejumlah tokoh tampak hadir berbaur dengan kerumunan massa, seperti pakar hukum tata negara dan anggota Komnas HAM Prof Dr Sri Soemantri, tokoh "Malari" dr Hariman Siregar, dan lain-lain.



Berbagai organisasi kemasyarakatan, pemuda, keagamaan, dan mahasiswa yang berada di gedung maupun di luar gedung DPR sepakat, agar ABRI bertindak dan berpihak kepada rakyat. Mereka mendesak agar MPR segera mengadakan sidang istimewa agar krisis ekonomi dan politik segera teratasi, dan kepercayaan masyarakat kembali pulih.

 

Selain itu, mereka juga meminta agar tindakan represif terhadap pers, khususnya kepada televisi dan radio swasta segera dihentikan.

 

 

You can share this post !