INSPIRA PROGRAM LIVE TV
Inspira TV - Beriklan TV Digital

Siap Launching, Inovasi Uji RDT Karya Peneliti Indonesia Untuk Penanganan Covid-19

Nuzul Nugraheni

22 May, 2020 12:01 WIB | INSPIRA TEKNO

Inspira TV - Siap Launching, Inovasi Uji RDT Karya Peneliti Indonesia Untuk Penanganan Covid-19

Foto: Istimewa

SLEMAN INSPIRA.TV,- Sebuah inovasi dalam membantu penanggulangan pandemi covid-19, selalu berkembang dan bermunculan. Inovasi kali ini datang dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKKMK) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.


Dipimpin langsung Guru Besar FKKMK UGM, Prof.dr. Sofia Mubarika Haryana dalam pembuatan inovasi uji diagnosis cepat (RDT) untuk covid-19 yang berbasis antibody, yang mendeteksi IgM dan IgG yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan covid-19.


Rencananya, inovasi karya anak bangsa ini akan diluncurkan oleh Presiden RI Joko Widodo pada bulan Mei ini, dan akan diberi nama RI-GHA 19.


"Awalnya, saat muncul pandemic covid-19 kami memang berpikir apa yang dapat kami lakukan untuk ikut membantu penanganan covid-19. Kemudian tiba-tiba Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menginisiasi untuk melakukan inovasi riset mengenai covid-19,” jelas Prof. Rika.


BPPT lalu mengundang dan mengajak beberapa peneliti Indonesia untuk bergabung melakukan riset dalam usaha penanganan covid-19. Dalam perkembangannya, terdapat 6 bidang inovasi penelitian yang menjadi fokus BPPT, salah satunya adalah rapid diagnostic test.


"Kebetulan penelitian saya sebelumnya terkait dengan kanker, yaitu Epstein-Barr Virus (EBV). Saya juga mempelajari bidang imunologi dan biologi molecular, sehingga saya bersedia bergabung dengan menggandeng beberapa peneliti lain, ada ahli virology juga sekaligus Guru Besar FKKMK UGM, Prof.dr. Tri Wibawa, juga seorang peneliti Laboratorium Hepatika Mataram, Nusa Tenggara Barat, Prof. dr. Mulyanto, beliau alumni FKKMK UGM,” ungkapnya.


“Selain itu juga ada ahli virology, Prof. Dr. drh. Fedik Abdul Rantam, dan Prof. Dr. dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa. Kemudian Guru Besar Universitas Airlangga Surabaya, dengan tim tersebutlah kemudian produk inovasi rapid test ini diberi nama RI-GHA yang merupakan kepanjangan dari Republik Indonesia – Gadjah Mada – Hepatika – Airlangga,” imbuhnya.


Prof. Rika menjelaskan berbekal pengalaman yang luar biasa melalui Laboratorium Hepatika, Prof. MUlyanto menyusun formula untuk RDT. Proses pengujian menggunakan serum positif covid-19 yang diperoleh dari Badan Litbangkes.


“Setelah hasil yang diperoleh positif, kemudian kami juga melakukan uji banding dengan produk komersial. Ternyata produk komersial yang beredar adalah total Immunoglobulin sehingga tidak spesifik, dan tidak seperti total IgM atau IgG yang kami kembangkan,” ujarnya.


Setelah proses pencarian merk komersial, akhirnya Prof. Rika bersama dengan tim dapat melakukan uji banding dengan merk komersial terbaik.


"Sesudah dicobakan oleh Pro. Mul, didapatkan hasil dari 20 sampel dengan positif IgM, produk RI-GHA memperoleh 8 positif. Selanjutnya dibandingkan dengan merk komersial terbaik, didapatkan hasil juga 8 positif. Artinya sampel positif covid-19 yang sebelumnya diuji dengan PCR hasilnya 20, maka ternyata yang menghasilkan antibody baru 8 sampel, kemungkinan sisanya belum terbentuk antibody,” katanya.


“Kemudian untuk memperoleh hasil yang lebih baik, Prof. Mulyanto kembali memperbaiki formula yang telah disusunnya, agar didapatkan hasil positif kuat, dengan tidak mengubah arti positivity nya. Selanjutnya, dengan data awal uji banding ini, kemudian kami telah melakukan proses registrasi online dan proses izin edar,” tambahnya.


Dari keseluruhan produksi dengan jumlah terbatas 10.000 tes ini, sebanyak 4.000 tes akan diserahkan untuk dilakukan uji validasi ke beberapa Rumah Sakit. Hal ini untuk mendapatkan seberapa tinggi akurasinya di masyarakat.


“Mudah-mudahan hasil uji validitas bagus dan akurasinya tinggi, sehingga dapat digunakan untuk massive screening di masyarakat. Selain biayanya murah rapid diagnostic test ini memiliki kelebihan deteksi cepat 5-10 menit, mudah, praktis, sensitifitas yang tinggi serta sangat spesifik, dapat dilakukan dimana saja,” tutupnya. (HAP)

You can share this post !

ARTIKEL PILIHAN