INSPIRA PROGRAM LIVE TV
Inspira TV - Beriklan TV Digital

Sambil Sujud dan Nangis Depan Dokter, Risma: Saya Goblok!

29 June, 2020 16:42 WIB | BERITA INSPIRA

Inspira TV - Sambil Sujud dan Nangis Depan Dokter, Risma: Saya Goblok!

Foto: Istimewa

SURABAYA INSPIRA.TV,- Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menggelar audiensi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya di halaman Balai Kota Surabaya, Senin (29/6/2020). Sesi audiensi yang sedianya berlangsung tenang dan lancar, mendadak ramai saat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tiba-tiba menangis dan bersujud.


Saat itu, Risma sedang mendengarkan penjelasan dari dr. Sudarsono, Sp.P (K) tentang penanganan pasien COVID-19 di Surabaya. Sudarsono mengatakan, salah satu penyebab tingginya kematian pasien COVID-19 adalah pasien yang harus menunggu masuk ke ruang isolasi. Terutama di RSUD Dr Soetomo Surabaya.


"Saya ikut bantu di poli, di IGD, dan di ruang isolasi. Saya tahu betul kalau pasien itu harus antri untuk masuk ruang isolasi. Soetomo sudah penuh. Belum lagi, kalau malam saya pulang dari rumah sakit saya lihat warga Surabaya masih nongkrong di warung kopi banyak yang mengabaikan protokol kesehatan," kata Sudarsono.


Mendengar penjelasan tersebut, Risma tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya menuju Sudarsono.


"Semua salah saya. Saya yang salah," sambil berjalan menangis dan langsung bersujud di hadapan Sudarsono.


Melihat Risma bersujud di depannya, Sudarsono dan sejumlah staf Risma pun mencoba mengangkat Risma untuk berdiri.


"Saya sudah sediakan 200 bed di RS Husada Utama kalau di RS Dr Soetomo penuh. Saya bilang silakan pakai kalau sudah penuh. Tapi kenapa saya selalu disalahkan. Padahal bantuan saya ditolak. Saya enggak bisa masuk Soetomo," kata Risma sambil duduk terisak.


Melihat situasi tersebut, dr. Brahmana Askandar, SpOG selaku Ketua IDI Surabaya mencoba menjadi penengah antara Risma dan Sudarsono.

"Jadi sebetulnya permasalahannya di kapasitas kamar yang dipakai pasien konversi dari positif ke negatif. Mereka sudah diuji PCR 1 kali dan hasilnya negatif. Tapi mereka belum boleh pulang kalau belum 2 kali PCR. Karena kalau mereka dipulangkan padahal masih 1 kali PCR, nanti klaim rumah sakit ditolak BPJS. Di situ saja masalahnya sebenarnya. Seolah-olah kamar terisi terus, padahal pasien yang masuk dan keluar ini nggak sebanding," kata Brahmana.

Setelah mendengar penjelasan dari berbagai spesialis paru dan anestesi serta perwakilan rumah sakit se-Surabaya, Risma pun kembali meminta maaf dan kali ini mengatakan dirinya.

"Saya memang goblok. Saya nggak pantas jadi wali kota Surabaya. Saya minta maaf Pak Sudarsono," kata Risma yang kembali mendatangi Sudarsono dan bersimpuh di kaki Sudarsono kedua kalinya sambil terus menangis.

Melihat kejadian yang sama, Sudarsono dan sejumlah staf Pemkot pun segera membantu Risma untuk berdiri kembali. (HAP)

You can share this post !

ARTIKEL PILIHAN