INSPIRA PROGRAM LIVE TV
Inspira TV - Beriklan TV Digital

Hukum Memelihara Anjing Bagi Seorang Muslim

14 July, 2020 11:12 WIB | INSPIRA HALAL

Inspira TV - Hukum Memelihara Anjing Bagi Seorang Muslim

Foto: Pixabay

DALAM kehidupan sehari-hari banyak ditemukan warga yang memelihara anjing di rumah. Pada umumnya yang memelihara hewan tersebut adalah mereka yang non muslim. Lalu bagaimana hukumnya jika umat Islam memelihara binatang itu?​


Pengurus Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), yang juga pengurus Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta, Ustadz Agustin Amirudin mengatakan, anjing menjadi najis karena air liurnya. Oleh karena itu muslim yang memelihara hewan ini harus tetap hati-hati dan menjaga diri dari najis tersebut.


"Anjing menjadi najis karena liurnya, dan alangkah baiknya seorang muslim untuk berjaga diri dari najis anjing dengan tidak memeliharanya. Walaupun seseorang bisa menjaga dari air liur anjing, tapi sangatlah sulit untuk bisa tidak bersentuhan atau berinteraksi dengan benda-benda lain yang terkena air liur anjing," katanya seperti dilansir dari Okezone, Selasa (14/7).


Agus menambahkan, apabila seorang muslim meyakini secara pasti sudah terkena najis dari air liur anjing, baik di badan maupun tempat atau wadah tertentu, maka wajib hukumnya untuk segera disucikan. "Yaitu dengan tujuh kali basuhan. Satu di antaranya dengan tanah," ujarnya. 


Sementara dikutip dari laman resmi Nahdatul Ulama (NU Online), hukum memelihara anjing ini masih diperdebatkan oleh ulama. Misalnya pendapat Syekh Wahbah Az-Zuhayli menyebutkan, anjing merupakan nomor pertama sebagai najis.

ثانياً ـ النجاسات المختلف فيها: اختلف الفقهاء في حكم نجاسة بعض الأشياء: الكلب

Artinya: "Kedua, jenis benda najis yang diperselisihkan ulama. Ulama fiqih berbeda pendapat perihal status najis, sejumlah benda berikut ini. pertama, ," (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz I, halaman 153).


Selain itu, riwayat lainnya yang mengatakan bahwa najis anjing harus dibersihkan atau dibasuh sebanyak tujuh kali, yaitu:

مَسْأَلَةٌ: فَإِنْ وَلَغَ فِي الإِنَاءِ كَلْبٌ أَيَّ إنَاءٍ كَانَ وَأَيَّ كَلْبٍ كَانَ كَلْبَ صَيْدٍ أَوْ غَيْرَهُ, صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا فَالْفَرْضُ إهْرَاقُ مَا فِي ذَلِكَ الإِنَاءِ كَائِنًا مَا كَانَ ثُمَّ يُغْسَلُ بِالْمَاءِ سَبْعَ مَرَّاتٍ, وَلاَ بُدَّ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ مَعَ الْمَاءِ, وَلاَ بُدَّ, وَذَلِكَ الْمَاءُ الَّذِي يُطَهَّرُ بِهِ الإِنَاءُ طَاهِرٌ حَلاَلٌ

Artinya: "Masalah, jika seekor anjing–anjing mana pun baik anjing pemburu maupun yang lain, baik besar maupun kecil–menjilat di dalam sebuah bejana mana pun itu, maka (kita) wajib menumpahkan seluruh isi bejana tersebut, lalu membasuhnya sebanyak tujuh kali. Dan tidak boleh tidak, salah satunya dengan debu bersama air. Tidak boleh tidak bahwa air yang dipakai untuk membasuh adalah air yang suci dan halal," (Lihat Jalaluddin Al-Mahalli, Kanzur Raghibin fi Minhajit Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 109). (HAP/JOB-02)

You can share this post !