INSPIRA PROGRAM LIVE TV
Inspira TV - Beriklan TV Digital

Marak Terjadi Penyimpangan, Psikolog UNM Nilai Pelaku Butuh Terapi Bukan Hukuman

23 September, 2020 14:47 WIB | BERITA INSPIRA

Inspira TV - Marak Terjadi Penyimpangan, Psikolog UNM Nilai Pelaku Butuh Terapi Bukan Hukuman

Foto: Ilustrasi

MAKASSAR, INSPIRA.TV,- Saat ini permasalahan psikolog santer diderita masyarakat terutama di kota besar seperti di Kota Makassar Sulawesi Selatan.


Kasus teror video asusila yang dialami oleh korban salah satu mahasiswi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Kota Makassar Sulawesi Selatan berinisial EL yang pelakunya merupakan Orang Tak Dikenalnya (OTK) dianggap sebagai penyimpangan seksual.

 

Pasalnya pria tersebut mempertontonkan kelaminnya kepada korbannya yang kebanyakan seorang wanita lewat video call whatsapp.

 

Menurut kesaksian korban EL, telpon tersebut berasal dari nomor yang tak di kenal. Sempat tak digubris panggilan video terus berdatangan beberapa kali dan saat panggilan video tersebut di terima pihak penelpon mengarahkan kamera ke alat kelaminnya.


EL kemudian memilih mengakhiri panggilan video dan menginformasikan kepada rekannya agar tak menanggapi panggilan yang sama.

 

"Saya bilang jangan diangkat karena dia kasih liat itunya (alat vital). Tapi ada tiga orang itu yang korban, satu kelasku. Dua video call begitu, kayak saya. Satu dikirimi video, pamer alat kelaminnya. Enam orang semua teman kelasku tiga orang tidak sampai diangkat," ujarnya.

 

Menanggapi hal tersebut, Psikolog dari Universitas Negeri Makassar (UNM), Harlina Hamid menilai, maraknya penelpon sex seperti yang dialami EL dilakukan oleh orang yang mengalami gangguan seksual.

 

"Dalam psikopatologi ada gangguan exhibisionisme namanya, yang merasamerasasenang dan terangsang jika menunjukkan alat vitalnya pada orang lain," ujarnya saat dikonfirmasi lewat whatsapp, Rabu (23/09/2020).

 

Lebih jauh kata Herlina, jika mendapati situasi semacam ini, hendaknya korban tidak menanggapi berlebihan. Hal tersebut kata Herlina karena reaksi apapun bisa memicu rangsangan bagi pelaku.

 

"Tidak ditanggapi berlebihan, entah tanggapan suka atau tidak suka, karena biasanya dua duanya nya membuat orang makin terangsang" bebernya

 

Selanjutnya Herlina menyarankan bagi para korban agar tidak memberi respon terhadap panggilan semacam ini.

 

"Kalau sudah tau telpon itu, langsung  di blokir saja. Tapi uuntuk efek jera, bisa juga dilaporkan ke pihak yang berwajib agar tidak melakukan lagi" ujarnya.

 

Lebih jauh, Herlina mengatakan bahwa penyakit mental seperti itu membutuhkan bantuan psikiater.

 

"Sebenarnya orang seperti ini membutuhkan teraphy daripada tindakan hukum. Bisa  bentuknya psikoanalis, Cognitive behavior therapy ( CBT), bisa dengan Play Therapy,” pungkasnya. (IMR/HAP)

You can share this post !