INSPIRA PROGRAM LIVE TV
Inspira TV - Beriklan TV Digital

Begini Cara Menahan Amarah Ajaran Rasulullah

28 September, 2020 15:10 WIB | INSPIRA HALAL

Inspira TV - Begini Cara Menahan Amarah Ajaran Rasulullah

Foto: Free Images Pixabay

Amarah adalah sebuah emosi yang datang ketika seseorang merasa tidak nyaman, gelisah, sedih dan terusik. Meluapkan kemarahan tentu akan memberi dampak menyakiti diri sendiri maupun orang lain yang ada di sekitar kita. Meski manusiawi, kita sebaiknya menahan segala emosi yang muncul dari hati agar tak merusak dan berubah menjadi kekerasan.


Dalam Islam sendiri banyak hadist yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memberi nasehat agar manusia tidak mudah marah dan sebaiknya menahan amarah, bahkan Allah menjanjikan surga-Nya untuk orang-orang yang dapat menahan amarah.


Rasulullah SAW sendiri sudah memberikan saran-saran dan tips kepada umat Islam saat merasakan kemarahan di dalam diri. Berikut cara Rasulullah dalam menahan Amarah


1. Membaca Ta'awuz

Segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan dengan membaca Taawuz. Karena sumber kemarahan itu adalah setan, sehingga amarahnya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah.


“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200).


Selain itu Nabi SAW bersabda seperti yang diriwayatkan Sulaiman bin Surd RA dalam Hadist Riwayat (HR) Bukhari dan Muslim.


"Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz. A’uudzu billahi minas syaithanir rajiim "Marahnya akan hilang," (HR. Bukhari dan Muslim).


2. Diam

Diam merupakan cara mujarab agar tidak menimbulkan dosa yang lebih besar. Karena saat seseorang yang sedang marah bawaannya akan terus berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia berbicara sesuatu yang dapat menyakiti hati orang lain bahkan mengundang murka Allah.


“Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad, 1: 239. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan lighairihi).


3. Berganti Posisi ke yang Lebih Rendah 

Kecenderungan orang marah adalah ingin lebih tinggi dan lebih tinggi. Semakin dituruti ingin lebih tinggi lagi. Dengan posisi lebih tinggi ini dia bisa melampiaskan amarahnya sepuasnya.


DariDari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,


“ Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur.” (HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).


Kenapa kita di suruh mengambil posisi yang lebih rendah? Seperti yang di jelaskan oleh Al-Khithabi yaitu:


“Orang yang berdiri, mudah untuk bergerak dan memukul, orang yang duduk, lebih sulit untuk bergerak dan memukul, sementara orang yang tidur, tidak mungkin akan memukul. Seperti ini apa yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perintah beliau untuk duduk, agar orang yang sedang dalam posisi berdiri atau duduk tidak segera melakukan tindakan pelampiasan marahnya, yang bisa jadi menyebabkan dia menyesali perbuatannya setelah itu.” (Ma’alim As-Sunan, 4/108).


4. Mengambil Air Wudhu

Air wudhu dapat menenangkan dan memadamkan api kemarahan di hati agar tidak melukai diri sendiri maupun orang lain.


MenahanMenahan amarah dengan cara berwudhu terdapat dalam hadist Urwag As-Sadi Radhiyallahu ‘anhu yang berkata :


“Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).


5. Mengingat Hadist Tentang Menahan Amarah dan Balasannya

Allah SWT memberikan pahala yang besar untuk orang yang mampu menahan amarahnya dan memaafkan orang lain. Kita bisa melihat banyak sekali manfaat yang kita dapatkan ketika menahan amarah, baik itu kebaikan dunia maupun akhirat.


OlehOleh karena itu cobalah untuk menahan amarah dengan membaca hadist-hadist mengenai keutamaan menahan amarah.


MuadzMuadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki.” (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani).


Demikian cara Rasulullah dalam menahan amarahnya. Semoga kita dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena amarah tidak baik untuk diri dan orang di sekitar kita. Kita perlu menahan amarah untuk mencegah kondisi menjadi lebih buruk.


(JOB-01/ MSN)


You can share this post !