INSPIRA PROGRAM LIVE TV
Inspira TV - Beriklan TV Digital

Gelar Audiensi dengan Ridwan Kamil, Buruh Minta UMK 2021 Naik

11 November, 2020 09:56 WIB | BERITA INSPIRA

Inspira TV - Gelar Audiensi dengan Ridwan Kamil, Buruh Minta UMK 2021 Naik

Foto: Humas Pemprov Jabar

BANDUNG INSPIRA.TV,- â€‹Perwakilan buruh meminta Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil agar merevisi keputusan mengenai Upah Minimum Provinsi (UMP) yang tidak dinaikkan. Buruh tetap mendesak agar setidaknya kenaikan dapat diterapkan pada Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK).


Hal tersebut mengemuka dalam audiensi yang dihadiri perwakilan buruh se-Jabar dengan Gubernur Jabar Ridwan Kamil di Gedung Sate Bandung, Senin (9/11/2020). Salah satu poin inti yang disampaikan adalah desakan agar kenaikan UMK di Jabar tahun depan bisa tetap terlaksana. 


Ketua umum Pimpinan Pusat FSP TSK SPSI Jabar, Roy Jinto Ferianto, mengatakan ada beberapa hal yang dia sampaikan. "UMP yang kita minta tetap naik walau diterbitkan tidak naik kita minta direvisi, kemudian terakhir dalah mengenai UMSK (Upah Minimum Sektoran Kabupaten/Kota;UMK)," ucap dia.


"UMK itu dalam ketentuan ditetapkan paling lambat tanggal 21 November. Dan ini waktunya sebentar lagi. Kita minta Pak Gubernur untuk menaikkan jangan sampai seperti UMP tidak naik," lanjutnya. 


Terkait permintaan para buruh, Ridwan Kamil mengatakan aspirasi yang disampaikan para buruh akan dibahas bersama Dewan Pengupahan Jabar. Soal UMK, kata ia, merupakan kewenangan kabupaten/kota. 


"Penetapan UMK adalah kewenangan pengajuan pertama dari bupati/wali kota. Saya monitor berbeda-beda sesuai dengan dinamika ekonomi dan kearifan lokal," imbuhnya.


Dalam audiensi, Kang Emil memaparkan situasi ekonomi di Jabar. Menurut ia, situasi ekonomi di setiap daerah berbeda-beda. Hal tersebut menjadi salah satu faktor dalam penetapan UMP.


Kang Emil mengatakan, saat ekonomi terpukul karena pandemi COVID-19, ekonomi Jabar terkontraksi lebih dalam dari rata-rata nasional. Hal itu salah satunya karena 60 persen industri manufaktur Indonesia berada di Jabar. 


"Situasi daerah tidak pernah sama. Jabar, teorinya, kalau jatuh akan sangat dalam dari pada nasional, tapi kalau kebangkitan dia juga paling tinggi dari nasional. Jadi, sifat ekonomi Jabar itu ada keunikan," katanya. 


"60 persen industri (manufaktur) ada di Jabar. Jadi dinamika pengupahan, PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), dan sebagainya, yang paling parah adalah Jabar jika dibandingkan dengan provinsi lain," tambahnya. (HAP)

You can share this post !

ARTIKEL PILIHAN