INSPIRA PROGRAM LIVE TV
Inspira TV - Beriklan TV Digital

Tahun 2021 Cukai Rokok Naik, Betulkah Akibat Resesi Ekonomi Indonesia ?

11 December, 2020 11:29 WIB | INSPIRA FINANCE

Inspira TV - Tahun 2021 Cukai Rokok Naik, Betulkah Akibat Resesi Ekonomi Indonesia ?

Foto : Ilustrasi

BANDUNG INSPIRA.TV,- Pemerintah berencana akan menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) sebesar 12,5 persen pada tahun 2021. Tentu saja kebijakan ini akan membuat para perokok berfikir ulang. Tak hanya itu, pelaku industri juga pastinya menghitung kembali untung dan rugi setelah cukai tersebut naik.

 

Kenaikan cukai rokok ini berdasarkan kebijakan yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani yang mengatakan, kalau keputusan tersebut sudah mempertimbangkan banyak hal. Meski memang, tidak semua jenis rokok mengalami kenaikan.

 

Contohnya saja, jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Tangan (SPT) saja yang mengalami kenaikan. Adapun SKM mengalami kenaikan sebesar 13,8%-16,9%, sementara untuk SPM naik sebesar 16,5-18,4%.

 

Sri Mulyani menjelaskan, ada pertimbangan lain terkait kenaikan cukai tersebut. Yakni sisi kesehatan agar dapat mengendalikan konsumsi rokok, terutama kelompok remaja di usia 10-18 tahun, agar dapat sesuai target yang dipatok sebsar 8,7% di RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) tahun 2024 mendatang, dimana saat ini prevalensi berada di 9,1%.

 

Selain itu ada pula kelompok pekerja dan petani, yakni untuk melindungi pekerja di industri tembakau sebanyak 158,5 ribu orang, dan petani tembakau sebanyak 2,6 juta orang. Kemudian dari sisi penerimaan negara untuk bisa mencapai target CHT yang ditetapkan sebesar Rp173,78 triliun di 2021, serta memberantas peredaran rokok ilegal.

 

Tentunya dengan adanya kenaikan cukai tersebut, mengakibatkan kenaikan pula pada harga rokok. Dapat diketahui, setidaknya perbatang SKM rokok bisa mencapai Rp 535 dan Rp865 per batangnya, dan inipun tergantung golongannya.

 

Sedangkan untuk SPM tarif per batang mencapai Rp565 dan Rp936 perbatangnya, dan juga tergantung golongannya.

 

Sri menambahkan, dampak kenakan tarif cukai sebesar 12,5% ini juga akan membuat harga rokok semakin tinggi. “Kenaikan CHT ini akan menyebabkan rokok jadi lebih mahal atau naik menjadi 13,7-14%, sehingga makin tidak dapat terbeli,” ujarnya, dalam konfernsi pers terkait kebijakan cukai rokok, di Jakarta.

 

Dari perhitungan angka tersebut, golongan SKM yang merupkakan rokok paling digemari harga jual ecerannya akan mengalami kenaikan dari Rp1.700 per batang menjadi kurang lebih Rp1.938 per batang. Kendati memang, masyarakat juga dapat membeli rokok dengan harga yang murah jika mengacu pada Peraturan Dirjen Bea dan Cukai Nomor 37 Tahun 2017.

 

Dimana dalam peraturan tersebutharga transaksi pasar (HTP) diperbolehkan di diskon 85% dari harga jual eceran. Artinya, harga per batangnya masih bisa dipatok RP1.647. Namun, jika menggunakan harga ini sebagai patokan, maka harga rokok masih terdiskon 15%-38%.

 

Ada kabar menyebutkan jika kenaikan cukai rokok pada tahun depan, akibat kondisi RI yang mengalami resesi semakin dalam.

 

Badan Pusat Statistik (BPS ) melaporkan, bahwa produk domestik bruto  (PDB) RI pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen (year on year/ yoy). Dengan demikian, Indonesia resmi masuk ke dalam jurang resesi, seteah kuartal II-2020 sebelumnya ekonomi RI juga mengalami kontraksi negatif.

 

Tentunya, jika dibandingkan dengan kuartal II-2020, realisasi pertumbuhan ekonomi sedikit membaik, pasalnya, pada kuartal II lalu, pertumbuhan ekonomi RI mengalami kontraksi yang cukup dalam, yakni mencapai 5,32 persen.

 

“Dengan berbagai catatan bahwa peristiwa pada triwulan II-2020, ekonomi Indonesia kalau PDB atas dasar harga konstan kita bandingkan pada kuartal II-2019, maka ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 3,49 persen,” tegasnya dalam konferensi pers di Jakarta, (5/11/2020) lalu. (MSN)

You can share this post !

ARTIKEL PILIHAN