INSPIRA PROGRAM LIVE TV
Inspira TV - Beriklan TV Digital

Begini Kondisi Cuaca Saat Pesawat Sriwijaya Terjatuh di Perairan Pulau Laki

11 January, 2021 09:18 WIB | BERITA INSPIRA

Inspira TV - Begini Kondisi Cuaca Saat Pesawat Sriwijaya Terjatuh di Perairan Pulau Laki

Foto : Ilustrasi

BANDUNG INSPIRA.TV,- Kondisi cuaca saat jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di sekitar Pulau Laki, Kepulauan Seribu diungkap, berdasarkan analisis dinamika atmosfer menunjukkan sistem konveksi skala meso.

 

Dari hal itu terdapat pembentukan awan pola besar, berdurasi panjang, dan semi melingkar telah terbentuk di atas kawasan Lampung dan Laut Jawa, di sekitarnya sejak pukul 11.00 WIB, atau beberapa jam sebelum pesawat hilang kontak yakni pukul 14.36 WIB.

 

"Sistem ini kemudian pecah dan berpropagasi (merambat) ke tenggara, yang berasosiasi dengan pertumbuhan sistem konveksi skala meso lain di atas Jawa bagian barat selama rentang waktu 13.00-15.00 WIB," ujar Tim Reaksi Analisis Kebencanaan Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (TREAK PSTA-LAPAN), Erma Yulihastin, Senin (11/1/2021).

 

Apabila dilihat dari kondisi sinoptik atau keadaan cuaca berdasar pantuan peta, kata Erma, terdapat vorteks Borneo dan westerly burst atau angin baratan kuat, dari Samudra Hindia di sekitar waktu jatuhnya Sriwijaya Air.

 

Untuk kecepatan burst Erma menerangkan yaitu 7-8 m/det pada ketinggian 1,5 kilometer yang lebih kuat dibandingkan klimatologis angin monsun baratan atau kurang 3 m/det.

 

"Sementara kondisi meso (kondisi iklim yang berkaitan dengan variasi dan dinamika pada suatu wilayah seluas beberapa kilometer persegi) di sekitar lokasi kejadian terdapat konvergensi angin dari utara dan barat di permukaan (10 m) yang telah mengintrusi kelembapan dan menumbuhkan sistem konveksi baru dari laut Jawa ke utara Jakarta," papar Erma.

 

Sementara kondisi cuaca lokal, menurut Erma terdapat pertumbuhan sistem konveksi di atas lokasi kejadian, menunjukkan koneksi antara sistem konveksi skala meso di bagian utara dan di selatan.

 

Koneksi ini menunjukkan sistem konveksi di utara itu berperan menginduksi konveksi baru sekaligus mengalami propagasi ke selatan.

 

Pantauan cuaca saat terjadinya peristiwa pesawat Boeing 737-524 Sriwijaya Air hilang kontak dan secara resmi dinyatakan oleh otoritas berwenang mengalami kecelakaan, terekam oleh Satellite Early Warning System (SADEWA) yang merupakan produk litbang LAPAN. (MSN) 

 

You can share this post !